Ketegangan politik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berdampak langsung pada sektor penerbangan sipil di Yaman. Bandara Internasional Aden hingga awal Januari 2026 belum kembali beroperasi secara penuh, mengakibatkan pembatalan sejumlah penerbangan dan membuat ribuan penumpang terlantar.
Mengutip laporan Associated Press (AP), gangguan operasional bandara dipicu perselisihan terkait pembatasan rute penerbangan antara Aden dan UEA. Bandara Aden selama ini menjadi pintu gerbang utama wilayah Yaman selatan yang berada di luar kendali kelompok Houthi, sehingga penutupan sebagian operasionalnya berdampak luas terhadap mobilitas warga sipil.
Otoritas transportasi Yaman di Aden menyebutkan pembatasan diberlakukan setelah Arab Saudi mewajibkan seluruh penerbangan rute Aden–UEA menjalani pemeriksaan tambahan di wilayah udara Saudi. Kebijakan tersebut mendorong otoritas bandara yang berada di bawah pengaruh Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA, untuk menangguhkan sebagian operasional bandara.
Akibat penutupan tersebut, ratusan penumpang tertahan di terminal, termasuk pasien yang hendak menjalani perawatan medis ke luar negeri. AP melaporkan sejumlah penerbangan kemanusiaan dan medis terpaksa ditunda akibat ketidakpastian izin terbang dan jalur udara. Hingga 4 Januari 2026, belum ada kepastian kapan penerbangan komersial dapat kembali beroperasi normal.
Laporan Al-Monitor menyebutkan bahwa sektor penerbangan sipil ikut terseret dalam rivalitas politik Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman. Ketegangan kedua negara Teluk itu meningkat setelah serangan udara di Pelabuhan Mukalla pada akhir Desember 2025. Meski tidak terjadi serangan langsung ke Bandara Aden, perbedaan kebijakan keamanan udara dan pengendalian wilayah membuat operasional bandara terhambat. Sejumlah maskapai regional memilih menangguhkan penerbangan dengan pertimbangan keselamatan dan kepastian perizinan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut menyoroti dampak penutupan bandara terhadap situasi kemanusiaan di Yaman. Juru bicara kantor kemanusiaan PBB menegaskan bahwa gangguan terhadap infrastruktur sipil, termasuk bandara, berpotensi memperburuk penderitaan warga sipil.
PBB mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri serta memastikan fasilitas publik tetap berfungsi, khususnya yang berkaitan dengan akses kemanusiaan dan transportasi sipil. Hingga kini, Bandara Internasional Aden masih beroperasi secara terbatas, mencerminkan dampak langsung konflik politik dan militer terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Yaman.









