ATLANTA – Aroma kontroversi terus membayangi langkah Timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Dari fase grup hingga babak gugur, serangkaian keputusan wasit yang dinilai menguntungkan juara dunia tersebut memicu gelombang kritik dari pengamat, mantan wasit, media, hingga jutaan pencinta sepak bola di berbagai belahan dunia.
Puncak polemik terjadi setelah Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) melayangkan protes resmi kepada FIFA menyusul kekalahan dramatis 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar. EFA meminta FIFA menginvestigasi kepemimpinan wasit François Letexier beserta perangkat pertandingan karena dianggap mengeluarkan sejumlah keputusan yang merugikan Mesir.
Namun, kontroversi tersebut bukanlah yang pertama.
Sorotan publik bermula saat Argentina menghadapi Aljazair pada fase grup. Dalam pertandingan itu, Lionel Messi menjadi perhatian setelah terlibat tekel keras terhadap pemain Aljazair. Tayangan ulang memperlihatkan kontak yang oleh banyak pengamat dinilai layak ditinjau lebih lanjut. Akan tetapi, wasit tidak mengeluarkan kartu kuning maupun kartu merah. Keputusan itu langsung memicu perdebatan mengenai konsistensi penerapan Laws of the Game.
Kontroversi kembali muncul saat Argentina menghadapi Austria. Kali ini Lautaro Martínez menjadi sorotan setelah insiden dengan gelandang Austria, Konrad Laimer. Rekaman pertandingan memperlihatkan adanya kontak fisik yang memicu tuntutan agar VAR melakukan peninjauan. Namun pertandingan tetap dilanjutkan tanpa hukuman disiplin yang berarti.
Perdebatan semakin menguat karena pada pertandingan lain antara Amerika Serikat melawan Australia, pelanggaran dengan karakteristik yang dianggap serupa justru berujung kartu merah bagi pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun. Perbedaan penanganan terhadap insiden-insiden tersebut memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi standar kepemimpinan wasit selama turnamen.
Dalam laga melawan Cape Verde, keputusan-keputusan kontroversial kembali menjadi bahan pembicaraan. Salah satu insiden yang paling banyak diperdebatkan adalah ketika seorang pemain Argentina terjatuh tanpa kontak yang jelas, tetapi wasit tetap memberikan pelanggaran. Di sisi lain, gol pertama Lionel Messi juga menjadi bahan diskusi publik karena sebagian pihak mempertanyakan proses pemeriksaan melalui teknologi VAR, meskipun hingga kini tidak ada pernyataan resmi FIFA yang menyatakan adanya kesalahan dalam penggunaan teknologi tersebut.
Semua kontroversi itu seolah mencapai klimaks saat Argentina berhadapan dengan Mesir.
Menurut protes resmi EFA, terdapat sejumlah keputusan yang dianggap menguntungkan Argentina. Salah satunya menyangkut penerapan prosedur pergantian pemain yang dinilai tidak dijalankan secara konsisten. Federasi Mesir juga mempersoalkan dianulirnya gol mereka melalui VAR yang menurut mereka seharusnya sah. Selain itu, pelatih Mesir turut menerima kartu setelah melakukan protes dan meminta penjelasan mengenai keputusan VAR, sebuah insiden yang semakin memperkeruh suasana pertandingan.
Rentetan kejadian tersebut membuat berbagai kalangan mempertanyakan apakah standar kepemimpinan wasit benar-benar diterapkan secara setara kepada seluruh peserta Piala Dunia.
Hingga saat ini FIFA belum menyatakan adanya bukti bahwa keputusan-keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menguntungkan Argentina, dan tidak ada bukti yang menunjukkan adanya intervensi terhadap hasil pertandingan. Namun, bagi banyak pengamat, persoalan utamanya bukan hanya benar atau salahnya satu keputusan, melainkan akumulasi kontroversi yang berulang dan selalu mengarah kepada tim yang sama.
Dalam sepak bola modern, kepercayaan publik merupakan fondasi utama sebuah kompetisi. Ketika keputusan-keputusan wasit terus diperdebatkan dan federasi peserta mulai mengajukan protes resmi, FIFA menghadapi tantangan besar untuk menjaga kredibilitas turnamen terbesar di dunia.
Piala Dunia bukan sekadar menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, Piala Dunia harus memastikan bahwa setiap kemenangan diraih melalui kompetisi yang adil, transparan, dan bebas dari keraguan. Selama berbagai kontroversi tersebut belum terjawab secara terbuka, pertanyaan mengenai konsistensi kepemimpinan wasit akan terus menjadi bayang-bayang yang mengikuti perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026.




