Oleh: M. Kapahang (Analis Komedi Politik)
SULUT, LAMBE TURAH NUSANTARA — Sungguh menggelikan menyaksikan dinamika politik lokal kita belakangan ini. Untuk kesekian kalinya, masyarakat disuguhi manuver politisi yang bukannya mendidik, malah sukses membuat kita mengelus dada sambil menahan tawa.
Belakangan (15 Oktober 2026), publik Manado disuguhi “pertunjukan komedi satir gratis” lewat aksi Anggota DPRD Kota Manado, Jendry Amrain. Di berbagai media massa, Bro Jendry tampil begitu “perkasa” menuduh Anggota DPR RI Hillary Brigitta Lasut (HBL) “nekat berdusta” terkait penunjukan Ketua Panitia Natal Nasional Gempar Indonesia oleh tokoh nasional Pak Hashim Djojohadikusumo.
Niat hati mungkin ingin menepuk dada bagai pahlawan kebenaran. Sayang sekali, alih-alih terlihat kritis dan elegan, pernyataan Jendry justru memamerkan sebuah lompatan logika yang begitu fantastis, hingga melompati fakta, etika, dan tata cara pembuktian sekaligus dalam satu tarikan napas!
Pola Pikir “Katanya”: Menelan Mentah Tanpa Uji Fakta
Mari kita bedah di mana letak ajaibnya argumentasi ini.
Jendry begitu percaya diri menghakimi HBL berbohong hanya berpatokan pada pernyataan Recky Langie (Humas Grup Arsari). Di sinilah letak keajaiban cara berpikir seorang legislator: ia menjadikan klaim perantara sebagai “kitab suci” untuk mengecap seseorang penipu di media massa.
Sebagai pejabat publik yang terhormat, Jendry seharusnya paham bedanya pers rilis entitas bisnis, koordinasi internal organisasi keagamaan, dan klaim perorangan. Bagaimana bisa konfirmasi kehumasan sebuah korporasi disamakan dengan mekanisme keputusan internal organisasi keagamaan?
Jendry tidak memegang konfirmasi tertulis langsung dari Pak Hashim, tidak pula meminta klarifikasi resmi kepada HBL. Ia hanya menelan bulat-bulat “kata orang”, lalu terburu-buru berteriak ke media bagai pemegang kebenaran tunggal. Jika standar pembuktian wakil rakyat kita setipis ini, besok-besok kalau ada gosip burung terbang mundur, Bro Jendry mungkin langsung buat rilis berita tanpa perlu menengok ke langit dulu!
Maksud Hati Membela Pak Hashim, Malah Menyiram Minyak ke Api
Ironi paling konyol dari manuver ini adalah dampaknya terhadap nama baik Pak Hashim Djojohadikusumo sendiri.
Jendry berapi-api berdalih ingin meluruskan nama Pak Hashim agar tidak “dicatut untuk proposal”. Lucunya, tanpa ia sadari, aksi terburu-buru ini justru ikut menggiring opini publik seakan-akan nama besar Utusan Khusus Presiden begitu murah hingga bisa diseret-seret ke dalam intrik kekanak-kanakan soal “siapa menunjuk siapa”.
Pak Hashim yang sedang sibuk mengurus agenda besar bangsa di tingkat nasional malah ditarik-tarik masuk ke kubangan konflik eceran. Maksud hati ingin jadi pahlawan penyelamat reputasi, Bro Jendry malah seperti orang yang berniat mencuci piring, tapi malah memecahkan satu rak kaca!
Isu “Rohani-Rohana”: Retorika Murahan yang Absen Etika
Keadaan makin miris ketika Jendry mulai membawa-bawa istilah keagamaan, membandingkan acara “Rohani” dan “Rohana” (non-rohani) untuk menyerang pribadi orang lain di media massa.
Dari sudut pandang saya sebagai seorang Analis Komedi Politik, ini bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan komedi kelam berbasis pembunuhan karakter (character assassination) yang amat picik.
Menggunakan simbol agama dan semangat Natal sebagai peluru politik untuk mendiskreditkan sesama warga negara adalah tindakan yang tidak beretika, provokatif, dan jujur saja… sangat konyol.
Rakyat memilih wakilnya untuk menyuarakan perut yang lapar, jalanan yang rusak, dan masa depan daerah, bukan untuk mendengarkan khotbah sinis dari politisi yang sedang kehabisan bahan jualan!
Menyelamatkan Akal Sehat Publik
Sebagai catatan penegasan: tulisan opini ini bukan dalam rangka menjadi tim sorak untuk Ibu Hillary atau Pak Hashim. Mereka berdua adalah tokoh kebanggaan Sulut di tingkat nasional yang tentu bisa bicara sendiri dan punya tim hukum untuk membela diri. Tulisan ini murni adalah “Bantuan Operasi Tanggap Darurat Logika” atas kecelakaan bernalar yang sedang menimpa panggung politik lokal kita.
Saran saya untuk Bro Jendry Amrain sederhana: sebelum melempar tuduhan “berdusta” yang berpotensi membalikkan jerat hukum ke muka sendiri, belajarlah tabayyun dan cross-check. Mendidik publik itu memakai data faktual dan literasi, bukan emosi dan gosip pasar yang dipoles jadi berita.
Mari kita akhiri drama komedi murahan ini dan kembali merajut persatuan. Jika memang belum punya gagasan besar untuk membangun daerah, setidaknya simpanlah energi untuk diam. Karena terkadang, diamnya seorang politisi tanpa gagasan adalah bentuk kontribusi terbesar bagi kedamaian mental dan persatuan masyarakat.
Atau jangan-jangan, rakyat Sulut perlu beramai-ramai menggalang donasi untuk mengirimkan Anda brosur Kursus Verifikasi Berita Dasar, agar panggung dewan kita tidak makin mirip panggung sirkus?
Sumber Referensi Pemberitaan:
Swarakawanua.id – “Anggota DPRD Manado: Kegiatan Natal Nasional Gempar Saja, HBL Nekat Berdusta ke Publik, Apalagi Kegiatan Non Rohani!” (15 Oktober 2026)
TribunManado.co.id – “Recky Langie: Hashim Djojohadikusumo Tidak Pernah Tunjuk HBL Jadi Ketua Panitia Natal Nasional 2026” (14 Oktober 2026)








