Kerumunan besar, pesta jalanan sepanjang tujuh blok, serta seruan “pajakilah orang kaya” menandai pelantikan publik Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City, Kamis (1/1/2025). Perayaan tersebut berlangsung bersamaan dengan pergantian tahun, menghadirkan simbol kepemimpinan baru di kota terkaya di dunia.
Berbeda dari tradisi pelantikan yang umumnya berlangsung khidmat dan terbatas, Mamdani memilih pendekatan terbuka dan populis. Tepat setelah tengah malam, saat perayaan Tahun Baru di Times Square, Mamdani mengucapkan sumpah jabatan dalam upacara sederhana di tangga stasiun kereta bawah tanah Balai Kota New York—lokasi bersejarah yang telah tidak digunakan sejak 1945. Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James, memimpin pengambilan sumpah tersebut, dengan Mamdani didampingi istrinya, Rama Duwaji.
Dalam prosesi tersebut, Mamdani menggunakan Al-Qur’an bersejarah milik Perpustakaan Umum New York serta satu mushaf peninggalan keluarganya. Upacara pelantikan publik kemudian digelar pada Hari Tahun Baru di tangga Balai Kota, disaksikan puluhan ribu warga yang memadati Lower Manhattan meski suhu udara sangat dingin.
Sejumlah tokoh politik nasional turut hadir, di antaranya anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez dan Senator Bernie Sanders. Dalam sambutannya, Sanders menekankan pesan utama pelantikan tersebut. “Ketika kaum pekerja berdiri bersama dan tidak terpecah belah oleh kepentingan kaum ultra-kaya, tidak ada tujuan yang mustahil dicapai,” ujar Sanders.
Pelantikan Mamdani juga dihadiri oleh pejabat kota lainnya, termasuk Pengawas Keuangan Mark Levine dan Advokat Publik Jumaane Williams. Ketiganya menyampaikan pidato dalam berbagai bahasa—Inggris, Spanyol, Ibrani, dan Yunani—serta tampil bersama para pemuka agama lintas keyakinan, mencerminkan keragaman New York.
“Kita menyaksikan tiga pengambilan sumpah dengan kitab suci yang berbeda—Al-Qur’an, Alkitab Kristen, dan Alkitab Ibrani. Ini adalah kebanggaan bagi kota seperti New York,” kata Levine.
Dalam pidato perdananya, Mamdani menegaskan komitmen terhadap persatuan dan solidaritas sosial. “Kami akan mengganti kekakuan individualisme dengan kehangatan kolektivisme. Pemerintahan ini akan memastikan New York menjadi milik lebih banyak warganya setiap hari,” ujarnya.
Agenda ekonomi progresif menjadi pesan utama pelantikan. Mamdani berjanji menaikkan pajak perusahaan di New York City dari 7,25 persen menjadi 11,5 persen, serta memberlakukan tambahan pajak dua persen bagi warga berpenghasilan di atas USD1 juta per tahun—kebijakan yang masih memerlukan persetujuan gubernur negara bagian.
Selain isu perpajakan, perumahan menjadi fokus utama pemerintahan baru. Mamdani berkomitmen membekukan sewa apartemen yang distabilkan, yang mencakup sekitar setengah dari unit sewa di kota tersebut. Beberapa jam setelah pelantikan, ia menandatangani sejumlah perintah eksekutif terkait perumahan, termasuk pembentukan dua gugus tugas kota untuk menginventarisasi lahan milik pemerintah dan mempercepat pembangunan hunian terjangkau.
“Krisis perumahan adalah inti dari krisis keterjangkauan di New York,” ujar Wakil Wali Kota Bidang Perumahan dan Perencanaan, Leila Bozorg. “Dengan kemauan politik dan alokasi sumber daya yang tepat, kebijakan ini dapat diwujudkan.”
Dengan usia 34 tahun, Mamdani kini menjadi salah satu wali kota termuda dalam sejarah New York. Pelantikannya tidak hanya menandai pergantian kepemimpinan, tetapi juga mempertegas arah baru politik kota tersebut—berbasis partisipasi publik, keadilan sosial, dan agenda progresif yang bergaung hingga tingkat nasional.









