Peluncuran tiga satelit rancangan Iran ke orbit menggunakan roket Rusia menandai penguatan signifikan aliansi strategis antara Teheran dan Moskwa, sekaligus memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas keamanan regional dan global. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, serta berlanjutnya perang Rusia–Ukraina.
Peluncuran yang berlangsung dari wilayah timur Rusia tersebut menjadi simbol kedekatan politik, militer, dan teknologi kedua negara, yang sama-sama berada di bawah tekanan sanksi Barat. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, hubungan Moskwa–Teheran berkembang dari kerja sama diplomatik menjadi kemitraan strategis yang mencakup sektor pertahanan, industri militer, dan kini antariksa.
Meski otoritas Iran menegaskan satelit tersebut ditujukan untuk keperluan sipil, negara-negara Barat memandang program antariksa Iran memiliki implikasi keamanan yang lebih luas. Teknologi peluncuran satelit dinilai memiliki kemiripan teknis dengan sistem rudal balistik jarak jauh, sehingga berpotensi memperkuat kapasitas militer Iran di kawasan Timur Tengah.
Bagi Rusia, kerja sama ini memperluas jejaring sekutu strategis di tengah isolasi internasional, sekaligus memperkuat posisinya sebagai mitra teknologi bagi negara-negara yang menghadapi tekanan Barat. Sebaliknya, bagi Iran, dukungan Rusia membuka ruang untuk mempertahankan dan mengembangkan kemampuan strategisnya meski berada di bawah sanksi ekonomi dan pembatasan teknologi.
Penguatan poros Moskwa–Teheran juga berdampak pada dinamika keamanan kawasan, khususnya di Timur Tengah. Amerika Serikat dan sekutunya menilai kerja sama ini dapat meningkatkan ketegangan regional, terutama terkait program nuklir Iran dan konflik proksi yang melibatkan Teheran. Peringatan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan serangan jika Iran membangun kembali program nuklirnya menegaskan risiko eskalasi yang masih tinggi.
Dalam konteks yang lebih luas, peluncuran satelit ini menunjukkan bagaimana rivalitas global kini merambah sektor antariksa sebagai arena baru kompetisi geopolitik. Perkembangan tersebut dinilai berpotensi memperumit upaya diplomasi internasional, sekaligus memperbesar tantangan bagi stabilitas keamanan regional dan global.










