Menanggapi bentrokan antar kelompok pemuda di Kabupaten Maluku Tenggara yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan sejumlah anggota kepolisian mengalami luka-luka, Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Muh. Fauzan Rahawarin, S.H., M.H., mengeluarkan himbauan kepada seluruh masyarakat Kei untuk kembali menghayati dan mengamalkan falsafah hidup yang telah diwariskan oleh leluhur, yaitu Ain Ni Ain dan budaya Fangnanan.
Dalam pernyataannya, Fauzan Rahawarin menegaskan bahwa orang Kei itu besar karena menjunjung tinggi falsafah Ain Ni Ain, yang berarti kebersamaan dan persaudaraan di atas segala perbedaan. Nilai ini harus terus dirawat dan dijaga baik di tanah Evav maupun di tanah rantau.
“Kita tidak boleh melupakan ajaran leluhur bahwa orang Kei adalah satu saudara. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua adalah keluarga. Budaya Fangnanan menuntun kita untuk hidup dalam kasih sayang, saling mendukung, dan menjauhi tindakan yang dapat memecah belah persaudaraan,” ujar Rahawarin.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa konflik hanya akan meninggalkan perpecahan, sementara perpecahan akan membawa ketertinggalan dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Rahawarin mengutip pepatah, Menang jadi abu, kalah jadi arang, yang menegaskan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam pertikaian, karena yang tersisa hanyalah kehancuran dan luka bagi semua pihak.
“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Kei, terutama generasi muda, untuk menahan diri dan menyelesaikan setiap permasalahan dengan kepala dingin. Jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai orang Kei yang dikenal dengan nilai persaudaraan yang kuat,” tambahnya.
Ia juga meminta agar semua pihak mempercayakan penyelesaian kasus ini kepada aparat keamanan dan tidak mengambil tindakan di luar hukum. Rahawarin berharap pemerintah daerah, tokoh adat, dan pemuka agama dapat bersinergi dalam meredam ketegangan serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga perdamaian.
“Mari kita bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di tanah Evav. Kita harus terus merawat warisan budaya kita agar tidak punah akibat pertikaian yang tidak bermanfaat. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai pelajaran agar tidak terulang di masa depan,” tutupnya.








